Email: cs@halopenulis.com
Tlp/WA: +62 821-4434-3651
Beranda » Blog » 8 Unsur Intrinsik Novel Sejarah yang Wajib Ada agar Ceritamu Lebih Hidup

8 Unsur Intrinsik Novel Sejarah yang Wajib Ada agar Ceritamu Lebih Hidup

Bagi kamu pecinta novel, pernahkah kamu membaca novel berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer? Kalau pernah, itu tandanya kamu sudah membaca salah satu contoh novel sejarah.

Disebut novel sejarah karena di dalam novel Bumi Manusia mengangkat kisah nyata berupa perjuangan seorang pribumi bernama Minke pada masa kolonial Belanda. Meski diangkat dari kisah sejarah yang nyata terjadi di masa lampau, novel sejarah tetap mengandung berbagai hal yang berasal dari imajinasi penulis.

8 Unsur Intrinsik Novel Sejarah yang Wajib Ada agar Ceritamu Lebih Hidup

Itulah kenapa membaca novel sejarah merupakan cara yang ringan bagi pembaca untuk mendapatkan edukasi sekaligus hiburan. Namun, agar bisa menulis novel sejarah yang terkesan hidup dan menarik tentunya perlu dibangun atas dua unsur utama, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik novel sejarah.

Nah, artikel kali ini akan fokus mendalami apa saja unsur intrinsik novel sejarah yang perlu kamu ketahui. Bagi kamu yang tertarik untuk menulis jenis novel yang satu ini, mari simak rangkuman informasi di bawah!

1. Tema

Tema adalah gagasan pokok atau inti yang menjadi dasar suatu cerita dalam karya sastra. Penentuan tema novel ini perlu dilakukan sejak awal agar penulis bisa mulai menulis cerita dan mengembangkannya menjadi cerita yang lengkap dan utuh.

Tema juga bisa diartikan sebagai pokok pembahasan cerita secara keseluruhan. Tema yang jelas sering kali bisa membantu pembaca untuk mengetahui pesan yang ingin penulis sampaikan melalui ceritanya.

Penulis biasanya mengkomunikasikan ide atau pesan penting untuk pembaca melalui konflik yang dialami oleh karakter ataupun latar cerita yang digunakan. Tema inilah yang menjadi rujukan penulis untuk menjalankan keseluruhan elemen cerita tersebut, termasuk karakter tokoh, konflik, latar, dan alur. Dalam arti, segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita harus kembali pada tema yang diangkat.

Untuk novel sejarah sendiri biasanya mengangkat kisah yang berkaitan dengan kehidupan tokoh bersejarah, perjuangan, peristiwa politik, atau kisah lainnya yang memuat unsur sejarah.

2. Alur

Unsur intrinsik novel sejarah yang kedua ada alur atau disebut pula plot. Plot merupakan unsur pembangun yang berasal dari dalam cerita yang menerangkan jalannya cerita secara kronologis dan sistematis.

Alur menjadi salah satu elemen penting dalam cerita yang membantu pembaca untuk memahami konflik cerita dan merasakan sensasi ketegangan yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Alur yang baik perlu disusun dengan jelas, logis, serta relevan dengan tema yang diangkat. Di dalam novel maupun cerpen, alur terbagi menjadi tiga jenis, antara lain:

  • Alur maju (progresif): Alur yang menceritakan kejadian secara berurutan dari awal menuju akhir cerita.
  • Alur mundur (regresif): Alur yang memulai cerita dari bagian akhir menuju bagian awal. Jenis alur ini juga dapat disebut kilas balik karena penulis membuka cerita dari masa lampau menuju saat ini.
  • Alur campuran (compound): Alur campuran berarti perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Jadi, penulis bisa membuat cerita yang melompat-lompat. Misalnya, bagian awal diceritakan terlebih dahulu, kemudian di tengah-tengah cerita ada flash back ke masa lalu, setelah itu kembali ke masa sekarang.

Meski mengacu pada peristiwa yang nyata terjadi di masa lampau, alur di dalam novel sejarah bebas dibangun sesuai imajinasi penulis dengan tetap berlatar belakang pada masa lalu tentang sejarah.

3. Tokoh

Tokoh merupakan pelaku, aktor, atau orang yang menjalankan cerita di dalam novel. Karakter tokoh dalam novel terdiri dari banyak jenis. Namun secara umum, berikut ini jenis-jenis karakter tokoh yang pasti ada di dalam novel:

  • Protagonis: Tokoh yang memiliki sifat baik (rendah hati, jujur, penolong, ramah, atau sifat-sifat baik lainnya). Tokoh protagonis juga biasanya berperan sebagai tokoh utama yang nantinya menjadi pengendali konflik di dalam cerita.
  • Antagonis: Tokoh yang memiliki sifat tercela atau buruk. Biasanya tokoh antagonis merupakan musuh utama tokoh protagonis dan menjadi pihak yang selalu berusaha menghalangi setiap langkah tokoh protagonis untuk mencapai tujuannya.
  • Tritagonis: Tokoh penengah yang membantu mendamaikan konflik antara protagonis dan antagonis. Karena berperan sebagai penengah, tritagonis biasanya digambarkan memiliki sifat yang dewasa, tenang, dan bijak.
  • Figuran: Tokoh pendukung untuk melengkapi jalan cerita. Tokoh figuran tidak ikut terlibat secara langsung di dalam konflik cerita. Namun, kemunculannya tetap penting untuk menghidupkan dan membuat jalan cerita semakin menarik.

4. Penokohan

Selain tokoh, ada pula unsur intrinsik novel sejarah yang disebut penokohan. Sekilas hampir sama, tetapi realitanya tokoh dan penokohan merupakan dua unsur yang berbeda. Jika tokoh merupakan pelaku/aktor yang menggerakkan alur cerita, maka penokohan adalah cara penulis menggambarkan watak atau karakter tokoh-tokoh di dalam cerita.

Penulis biasanya menggambarkan karakter tokoh secara langsung maupun tidak langsung. Penggambaran karakter tokoh secara langsung bisa melalui penuturan dari dirinya sebagai penulis mengenai karakter tokoh.

Penulis juga bisa mengungkap karakter tokoh secara tidak langsung melalui pikiran, perasaan, atau dialog yang diucapkan oleh tokoh dengan dirinya sendiri atau tokoh lain di dalam cerita, serta tindakan-tindakan yang dilakukan oleh tokoh. Membuat penokohan juga umumnya bisa melalui dua cara berikut:

  • Penokohan analitik: Watak atau karakter tokoh digambarkan melalui ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh tokoh
  • Penokohan dramatik: Watak atau karakter tokoh digambarkan melalui hubungannya dengan tokoh lain. Misalnya melalui gaya bicara, tingkah laku, atau responsnya terhadap setiap peristiwa di dalam cerita.

5. Latar

8 Unsur Intrinsik Novel Sejarah yang Wajib Ada agar Ceritamu Lebih Hidup

Latar atau setting merupakan unsur intrinsik novel sejarah yang menerangkan waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa di dalam cerita. Dalam novel sejarah, latar atau setting tidak bisa ditentukan sendiri oleh penulis seperti novel umum.

Dengan kata lain, latar atau setting pada novel sejarah tidak bisa direkayasa atau ditentukan berdasarkan imajinasi penulis. Latar novel sejarah harus ditentukan sesuai sumber sejarah yang ada.

Untuk itulah, penulis perlu menganalisis data atau informasi yang berkaitan dengan cerita sejarah yang hendak diangkat menjadi novel. Data dan informasi tersebut bisa didapatkan baik melalui sumber tertulis maupun tidak tertulis.

Sumber tertulis misalnya dokumen, buku, dan situs online terpercaya. Sementara sumber tidak tertulis bisa diperoleh melalui wawancara dengan narasumber yang menjadi saksi atau memahami sejarah tersebut secara mendalam.

6. Gaya Bahasa

Gaya bahasa atau disebut majas adalah cara penulis untuk membuat cerita menjadi lebih unik dan menarik. Yakni, melalui penggunaan diksi, majas, atau ritme tertentu dalam kalimat sehingga mampu menghidupkan karakter serta suasana di dalam cerita.

Pada umumnya, setiap novel memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan gaya bahasa mewakili ciri khas masing-masing penulis. Gaya bahasa atau majas juga terdiri dari berbagai jenis. Beberapa yang sering digunakan penulis antara lain:

  • Personifikasi: Gaya bahasa yang mengungkapkan benda mati seakan-akan memiliki sifat seperti manusia.
  • Metafora: Gaya bahasa yang membandingkan satu benda dengan benda lainnya secara langsung. Biasanya ditandai dengan penggunaan kata seperti, bak, dan bagaikan.
  • Hiperbola: Gaya bahasa yang berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu.
  • Litotes: Gaya bahasa yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu dengan maksud merendahkan diri.

7. Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view merupakan teknik penyampaian gagasan atau cerita yang digunakan oleh penulis sehingga pembaca bisa mengetahui dari kacamata siapa cerita tersebut disampaikan. Apakah dari kacamata tokoh utama, tokoh pendukung, atau orang ketiga serba tahu. Umumnya, ada tiga jenis sudut pandang yang biasa penulis gunakan:

  • Sudut pandang (PoV) orang pertama: Cerita ditulis menggunakan kata ganti aku, saya, gue, atau kata ganti pertama lainnya.
  • Sudut pandang (PoV) orang kedua: Cerita ditulis menggunakan kata ganti kamu, anda, kau, engkau, atau kata ganti orang kedua lainnya.
  • Sudut pandang (PoV) orang ketiga: Cerita ditulis menggunakan kata ganti dia, ia, mereka, atau kata ganti orang ketiga lainnya.

8. Amanat

Unsur intrinsik novel sejarah yang terakhir ada amanat atau pesan. Amanat adalah nilai-nilai, pelajaran, atau pesan moral yang ingin penulis sampaikan melalui karyanya. Jadi melalui amanat, pembaca bisa mengetahui makna yang tumbuh di balik cerita secara keseluruhan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa amanat dalam cerita bukanlah sekadar pelengkap, melainkan unsur yang penting untuk menghidupkan cerita dan memberikannya makna mendalam. Dengan begitu, pembaca tidak hanya akan terhibur, tetapi juga memperoleh manfaat atau pelajaran berharga saat membaca sebuah novel.

Amanat dalam novel biasanya disampaikan penulis melalui tokoh, konflik, atau cara penyelesaian konflik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh di dalam cerita. Amanat juga disampaikan secara tersembunyi atau tersirat oleh penulis. Tujuannya agar pembaca lebih terdorong untuk membaca novel secara keseluruhan sehingga dapat menangkap pesan yang ingin penulis sampaikan.

Itulah delapan unsur intrinsik novel sejarah yang perlu kamu ketahui, terutama bagi kamu yang ingin menulis novel sejarah. Unsur-unsur intrinsik di atas wajib ada dalam novel sejarah yang kamu tulis untuk menghidupkan cerita serta membentuk struktur cerita yang sempurna dan mudah dipahami pembaca.

Tuliskan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Keranjang belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko