Memahami Unsur Ekstrinsik dan Unsur Intrinsik dalam Cerita Hikayat

Pernahkah kamu membaca karya sastra yang di dalamnya menceritakan tentang kehidupan keluarga di istana, bangsawan, atau tokoh yang memiliki kesaktian tertentu? Jika pernah, itulah yang disebut hikayat.
Nah, bagi kamu yang suka membaca untuk menambah wawasan sekaligus juga untuk hiburan, membaca hikayat bisa jadi pilihan yang tepat. Kenapa demikian? Sebab, kamu akan menemukan hal-hal yang bersifat ajaib atau tidak masuk akal melalui cerita hikayat ini.
Memahami Unsur Ekstrinsik dan Unsur Intrinsik dalam Cerita Hikayat
Namun tentu saja, hal ini tidak lepas dari peran penting unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik dalam cerita hikayat sehingga mampu membangun hikayat yang menarik dan menghibur pembaca.
Untuk memahami lebih jelas dan lengkap tentang hikayat, mulai dari pengertian, unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik cerita hikayat, yuk simak baik-baik artikel ini sampai akhir!
Pengertian Hikayat
Kata hikayat berasal dari bahasa Arab “haka” yang artinya bercerita atau menceritakan. Hikayat merupakan salah satu karya sastra Melayu berbentuk prosa yang memusatkan ceritanya pada kehidupan di lingkungan istana.
Sementara itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hikayat adalah karya sastra lama Melayu yang berbentuk prosa. Hikayat juga dapat didefinisikan sebagai karya sastra Melayu yang mengangkat kisah penuh kemustahilan dan keajaiban, serta para tokoh-tokohnya yang memiliki kesaktian.
Pada umumnya, cerita hikayat digambarkan berakhir bahagia. Dengan kata lain, tokoh utama atau tokoh berwatak baik selalu dimenangkan dan menjadi pahlawan.
Itulah kenapa membaca hikayat bisa dijadikan sarana hiburan atau pelipur lara. Selain itu, hikayat juga bisa membantu membangkitkan motivasi pembaca dalam memperjuangkan sesuatu.
Pengertian Hikayat Menurut Ahli
Nah, setelah memahami pengertian hikayat secara umum, para ahli juga turut membagikan pandangannya tentang definisi hikayat. Beberapa ahli yang ikut berpendapat antara lain:
1. Sudjiman
Menurut sudjiman, hikayat adalah jenis karya sastra berbentuk rekaan atau fiksi yang sering digunakan di dalam sastra Melayu lama. Yang mana, sastra Melayu lama mencerminkan kisah keagungan dan kepahlawanan.
2. Suherli
Suherli berpendapat bahwa hikayat adalah jenis cerita rakyat yang berbentuk teks narasi. Hikayat juga merupakan cerita klasik yang menonjolkan unsur penceritaan kesaktian dan kemustahilan dari para tokoh di dalamnya.
3. Sugiarto
Berikutnya, pengertian hikayat juga dikemukakan oleh Sugiarto. Menurutnya, kata “hikayat” berasal dari bahasa Arab yang bermakna kisah atau cerita. Kata “hikayat” pada awalnya digunakan dalam bahasa Melayu yang mana makna sebenarnya masih melekat.
4. Hooykass
Terakhir, ada pula pendapat dari Hooykaas tentang apa itu hikayat. Menurut Hooykaas, hikayat adalah cerita roman yang ditulis dalam bahasa Melayu.
Unsur Intrinsik Hikayat
Sekarang setelah sudah paham apa itu cerita hikayat, berikut ini akan dijelaskan unsur intrinsik dalam cerita hikayat. Sama halnya seperti karya sastra lain, cerita hikayat dibangun atas 8 unsur intrinsik berikut:
1. Tema
Tema adalah ide atau pokok pikiran utama yang menjadi dasar sebuah cerita secara keseluruhan. Disebut dasar cerita karena tema ini digunakan sebagai landasan atau acuan untuk mengembangkan cerita. Inilah kenapa tema perlu ditentukan sejak awal sebelum menyusun cerita.
Tema sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang bersifat menonjol dan menjadi pokok persoalan di dalam cerita. Kebalikan dari tema mayor, tema minor adalah tema yang tidak mencolok atau menjadi persoalan utama dalam cerita.
2. Alur
Unsur intrinsik dalam cerita hikayat berikutnya yaitu alur. Alur atau sering disebut jalan cerita adalah rangkaian peristiwa di dalam cerita yang bisa menunjukkan unsur kausalitas atau sebab akibat. Alur sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
- Alur maju (progresif): Jalan cerita disajikan secara berurutan, mulai dari masa lalu hingga masa sekarang.
- Alur mundur (flashback/regresif): Jalan cerita disajikan secara mundur, dimulai dari masa sekarang hingga masa lalu (flashback).
- Alur maju mundur (campuran): Jalan cerita disajikan dengan memadukan alur maju dan alur mundur.
Selain ketiga jenis alur di atas, ada pula pembagian alur berdasarkan kualitasnya. Yakni, ada alur longgar dan alur erat. Alur longgar adalah alur yang menimbulkan percabangan cerita. Sementara alur erat adalah alur yang berfokus pada satu cerita saja.
3. Latar
Latar adalah ruang lingkup yang digunakan untuk menyusun sebuah cerita secara keseluruhan. Unsur intrinsik latar ini mencakup keterangan terkait waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa yang diceritakan di dalam hikayat.
Latar tempat dalam hikayat umumnya terjadi di istana atau kerajaan, laut, pantai, pelabuhan, hutan, atau tempat-tempat lainnya yang identik dengan masa terdahulu.
4. Amanat
Unsur intrinsik dalam cerita hikayat selanjutnya ada amanat. Amanat adalah pesan moral yang terkandung di dalam cerita untuk disampaikan kepada pembaca.
Amanah di dalam cerita bisa disampaikan secara eksplisit maupun implisit. Secara eksplisit berarti pesan di dalam cerita dapat diketahui langsung oleh pembaca karena disampaikan secara tersurat atau terang-terangan oleh pengarang.
Sementara itu, secara implisit berarti pesan di dalam cerita disampaikan secara tidak langsung, tersirat , atau sembunyi-sembunyi oleh pengarang.
5. Tokoh
Tokoh adalah pelaku atau orang yang menjalankan alur cerita. Ada tiga jenis tokoh yang umumnya ada di dalam cerita, yaitu tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan figuran.
- Protagonis: Tokoh yang memiliki watak terpuji atau baik. Biasanya, tokoh protagonis juga sekaligus berperan sebagai tokoh utama.
- Antagonis: Tokoh yang memiliki watak buruk atau tercela. Biasanya, tokoh antagonis ini merupakan musuh utama dari protagonis dan selalu berusaha menghalangi tujuannya.
- Figuran: Tokoh pendukung atau pelengkap untuk menambah data tarik cerita.
6. Penokohan
Penokohan adalah penggambaran karakter atau watak tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Unsur intrinsik penokohan ini penting untuk membuat cerita menjadi lebih menarik, utuh, dan realistis.
Sama seperti amanat, penokohan juga dapat disajikan secara langsung (analitik) maupun tidak langsung (dramatik). Secara langsung berarti penulis menjelaskan sendiri bagaimana karakter atau watak tokoh.
Sementara itu, tidak langsung berarti karakter atau watak tokoh ditunjukkan melalui dialog, jalan pikiran, tanggapan tokoh lain, atau tindakan tokoh di dalam cerita.
7. Sudut pandang
Unsur intrinsik lainnya yaitu sudut pandang. Sudut pandang merupakan cara pengarang memposisikan dirinya dalam menyampaikan cerita. Sudut pandang (point of view) yang umumnya digunakan dalam karya sastra terbagi menjadi sudut pandang orang pertama, orang kedua, orang ketiga, dan campuran.
8. Gaya bahasa
Terakhir, ada unsur intrinsik dalam cerita hikayat yang disebut gaya bahasa. Gaya bahasa berarti penggunaan diksi atau kata yang dipilih oleh pengarang dalam menulis cerita.
Gaya bahasa atau juga disebut majas ini penting untuk menambah warna dan daya tarik cerita. Ada banyak jenis gaya bahasa atau majas yang umumnya digunakan, yakni hiperbola, metafora, personifikasi, litotes, antitesis, dan lain sebagainya.
Unsur Ekstrinsik Hikayat
Selain unsur intrinsik, ada pula unsur pembangun hikayat yang berasal dari luar cerita atau disebut unsur ekstrinsik. Berikut ini unsur-unsur ekstrinsik dalam cerita hikayat:
1. Latar belakang pengarang
Unsur dari luar hikayat yang menentukan hasil cerita yang ditulis yaitu latar belakang pengarang. Latar belakang pengarang yang dimaksud bisa meliputi latar belakang pendidikan, latar belakang keluarga, pandangan hidup, maupun motivasi yang dimiliki pengarang.
Misalnya, pengarang berlatar belakang pendidikan yang linier dengan cerita yang ditulis, cenderung menghasilkan jalan cerita yang baik. Yakni mampu mewakili pengetahuan atau pemahaman yang dikuasai.
Tidak hanya itu, latar belakang pengarang juga memengaruhi pola tulisan dan motivasi pengarang dalam menyampaikan sudut pandangnya terkait isi cerita kepada pembaca.
2. Latar belakang sejarah
Latar belakang sejarah berarti kondisi sejarah atau politik pada masa kerajaan tertentu yang berdampak signifikan terhadap alur atau konflik cerita.
3. Lingkungan sosial-budaya
Lingkungan budaya pengarang juga turut memengaruhi bagaimana jalan cerita dibuat. Budaya berarti berkaitan dengan adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat di lingkungan di mana pengarang tinggal.
Sebagai contoh, pengarang yang hidup di desa akan lebih luwes dalam bercerita tentang kondisi atau adat istiadat di pedesaan.
4. Nilai-nilai kehidupan
Nilai-nilai kehidupan merupakan unsur ekstrinsik yang berdampak pada pesan moral di dalam hikayat. Pesan moral untuk setiap generasi tentunya berbeda-beda sehingga perlu disesuaikan dengan nilai-nilai yang relevan pada saat itu.
Nilai-nilai kehidupan bisa mencakup pesan moral berupa perilaku buruk dan baik, maupun pesan agama yang mana mengajarkan tentang iman dan taat kepada Tuhan.
5. Kondisi zaman
Setiap hikayat memiliki ciri khasnya masing-masing yang mencerminkan kondisi zaman pada saat hikayat tersebut dibuat. Sebagai contoh, hikayat tentang sahabat nabi tentunya berada pada zaman yang berbeda dengan hikayat para wali di nusantara.
Demikian pembahasan tentang pengertian beserta unsur ekstrinsik dan intrinsik dalam cerita hikayat. Bagi kamu yang tertarik menulis cerita hikayat untuk generasi saat ini, semoga informasi di atas bisa memberikan gambaran yang jelas tentang apa saja unsur-unsur pembangun hikayat yang perlu kamu tentukan, ya. Selamat menulis!


Tuliskan Komentar