Mengenal Pengertian dan Perkembangan Teori Atom dari Waktu ke Waktu

Bagi kamu yang sedang atau sudah melalui bangku SMA mungkin tidak asing lagi dengan istilah atom. Begitu pula dengan mahasiswa jurusan kimia. Istilah atom adalah salah satu fokus pembelajaran yang akan kamu dapatkan nantinya.
Salah satu bab yang akan dipelajari oleh pelajar maupun mahasiswa kimia ialah tentang perkembangan teori atom. Yang mana seiring berjalannya waktu, ilmu atau teori atom ini bisa jadi mengalami perubahan atau perkembangan.
Mengenal Pengertian dan Perkembangan Teori Atom dari Waktu ke Waktu
Maka dari itulah, penting bagi pelajar, mahasiswa, dosen, maupun kalangan akademisi untuk mempelajari terkait perkembangan teori atom ini agar mendapatkan referensi terbaru yang relevan.
Melalui artikel ini, kamu akan belajar memahami pengertian serta perkembangan teori atom. Nah, sebenarnya apa itu atom? Siapa saja tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perkembangan teori atom? Mari simak jawabannya lebih lengkap berikut ini!
Pengertian Atom
Secara etimologi atau bahasa, atom berasal dari bahasa Yunani “atomos” yang berarti tidak bisa dipotong. Dilihat dari artinya ini bisa menunjukkan bahwa atom memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga tidak bisa dipotong atau dibagi lagi.
Sementara itu, melansir dari laman kompas.com, Demokritos di masa Yunani Kuno menyebutkan bahwa atom adalah partikel terkecil di alam semesta. Itulah mengapa atom tidak dapat dibagi-bagi kembali.
Atom sendiri tersusun dari beberapa partikel yang disebut sebagai subatom. Hal ini menjadi bukti bahwa dalam permukaan suatu benda, atom memiliki ukuran yang sangat kecil.
Yang mana, untuk menentukan seberapa besar ukuran atom bukanlah hal yang mudah. Hal ini dikarenakan dalam satu titik benda saja sudah terdiri dari ratusan ribu hingga jutaan atom didalamnya.
Perkembangan Teori Atom
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa atom merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani. Konsep atau teori mengenai atom ini pertama kali disampaikan oleh filsuf Yunani dan India. Yang mana, keduanya menjelaskan bahwa atom merupakan partikel terkecil yang tidak dapat dibagi atau dipisah-pisah lagi.
Konsep tersebut kemudian terus mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu yakni pada abad ke-17 hingga ke-18. Banyak teori atom lainnya yang dikemukakan oleh para ilmuwan. Berikut ini penjelasan selengkapnya terkait perkembangan teori atom:
1. Teori atom Dalton
Teori atom pertama kali dikemukakan pada tahun 1803 oleh seorang ilmuwan bernama John Dalton yang kemudian dikenal dengan teori atom Dalton. Ilmu atau teori Dalton ini diakui kebenarannya dan berlaku hingga tahun 1805.
Menurut teori Dalton, ia menyatakan bahwa atom memiliki bentuk fisik menyerupai bola pejal. Yakni, mirip dengan bola yang digunakan dalam olahraga tolak peluru. Pernyataannya terkait bentuk fisik atom ini didasarkan pada beberapa hal, antara lain:
- Seluruh benda di dunia ini tersusun dari atom yang saling terkait atau terhubung satu sama lain
- Atom tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan
- Atom-atom yang menyusun suatu benda tidak dapat dibagi-bagi, dipotong-potong, atau dipisah-pisah lagi menjadi partikel yang lebih kecil
- Atom-atom dari unsur tertentu cenderung identik satu sama lain. Hal ini membuat satu unsur memiliki perbedaan dengan unsur lainnya.
- Perubahan atau reaksi kimia merupakan proses penggabungan maupun pemisahan dari atom-atom yang tidak dapat dibagi lagi.
Teori atom Dalton memiliki kelebihan, yakni bisa menciptakan perkembangan model atom yang pertama. Dengan begitu, ilmuwan lain bisa melakukan pengembangan dari teori yang dikemukakan oleh Dalton.
Selain kelebihan, teori atom Dalton juga tidak lepas dari kekurangan. Teori atom Dalton menimbulkan pertanyaan, “mengapa atom tidak dapat menghantarkan arus listrik padahal memiliki bentuk menyerupai bola pejal?”.
Kelemahan tersebutlah yang kemudian menjadi kesempatan dan mendorong ilmuwan atau fisikawan lainnya untuk menyempurnakan teori Dalton.
2. Teori atom Thomson
Setelah teori Dalton, muncullah perkembangan teori atom lainnya. Kali ini dikemukakan oleh Sir Joseph John Thomson dan William Crookes pada awal abad ke-20. Pada tahun ini, keduanya menemukan katode yang lebih baik.
William dan Thomson kemudian melakukan penelitian lebih lanjut terhadap cahaya katode tersebut. Cahaya katode tersebut memiliki kemampuan untuk memutar baling-baling yang berada di sekitar katode dan anode. Inilah yang kemudian membuat cahaya katode disimpulkan sebagai partikel.
Berdasarkan penelitian tersebut, Thomson menyatakan kesimpulan bahwa sinar katode disebut sebagai elektron atau partikel penyusun atom yang memiliki muatan negatif.
3. Teori atom Rutherford

Perkembangan teori atom berikutnya dikemukakan oleh Ernest Rutherford. Inilah mengapa dinamakan teori atom Rutherford. Rutherford melakukan suatu percobaan yang terkenal hingga saat ini.
Namun, Rutherford tidak melakukan percobaan tersebut seorang diri. Melainkan, ia melakukannya bersama kedua muridnya yang bernama Marsden dan juga Hans Geiger.
Nah, apa percobaan yang dilakukan oleh Rutherford dan kedua muridnya? Jadi, Rutherford melakukan percobaan dengan menembakkan sinar alpha ke permukaan sebuah logam.
Logam yang digunakan dalam percobaan berupa logam emas tipis. Hal ini dikarenakan sinar alpha memiliki kemampuan dalam menembus benda atau kertas tipis.
Tujuan Rutherford melakukan percobaan ini ialah untuk membuktikan benar atau tidaknya teori atom yang dikemukakan oleh Thomson yang menyatakan bahwa atom berbentuk bola pejal.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kondisi sinar alpha nantinya akan berbelok atau lurus menembus lempengan logam emas tipis tadi.
Nah, berdasarkan percobaan Rutherford dan kedua muridnya yang kemudian diberi nama percobaan Geiger Marsden, dihasilkan bahwa ada sinar yang berbelok dan ada pula yang menembus lurus lempengan logam emas tipis tersebut. Jadi, dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:
- Apabila dalam percobaan tersebut atom digambarkan sebagai lempengan emas tipis, maka di dalam lempengan emas tersebut terdapat partikel bermuatan positif.
- Partikel bermuatan positif tersebutlah yang kemudian menjadi penyusun inti atom. Hal ini dikarenakan dari 20000 partikel sinar alpha, terdapat 1 partikel yang membelok. Ini menandakan bahwa ukuran inti atom dengan partikel yang mengitarinya ialah 10000 kali lebih kecil.
- Hampir seluruh sinar alpha yang ditembakkan ke lempeng emas tipis akan diteruskan. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya atom bukanlah bola pejal.
Teori atom Rutherford memiliki kelebihan, yakni mampu menunjukkan keberadaan muatan inti atom yang positif. Sementara itu, kekurangan teori atom Rutherford ialah mengapa elektron tidak jatuh ke inti atom. Padahal, keduanya memiliki muatan yang berbeda. Elektron memiliki muatan negatif, sedangkan inti atom positif.
4. Teori atom Bohr
Perkembangan teori atom berikutnya ialah dikemukakan oleh Niels Bohr. Bohr merupakan seorang ahli fisika dari Denmark yang menyempurnakan teori atom Rutherford.
Percobaan yang dilakukan oleh Bohr menggunakan spektrum atom hidrogen. Kemudian dari hasil percobaan tersebut, diperoleh keberadaan elektron di sekitar inti atom.
Berdasarkan hal tersebut, Bohr menjadi fisikawan pertama yang menjelaskan tentang struktur atom pada tahun 1913. Berdasarkan hasil percobaan ini juga dapat diketahui sifat-sifat atom, yakni:
- Atom memiliki satu lintasan, yang mana atom terdiri dari inti atom (bermuatan positif) dan elektron (bermuatan negatif).
- Elektron memiliki kemampuan untuk menyerap dan memancarkan energi serta berpindah dari satu lintasan ke lintasan yang lain. Hal ini membuat atom tidak akan kekurangan atau kehabisan energi.
- Perpindahan elektron ke lintasan yang lebih tinggi akan menyerap energi, dan sebaliknya. Perpindahan elektron ke lintasan yang lebih rendah akan memancarkan energi.
- Di setiap lintasan, elektron memiliki tingkatan energi yang berbeda-beda. Elektron ini juga dapat disebut sebagai kulit -kulit elektron pada tingkat tertentu.
5. Teori atom modern
Teori atom semakin mengalami perkembangan setelah melewati abad ke-20. Hal ini dikarenakan penjelasan terkait bentuk fisik atom yang semakin jelas dan sempurna.
Bentuk atom yang saat ini diyakini oleh masyarakat luas merupakan hasil dari perkembangan teori atom oleh Erwin Schrodinger yang merupakan teori yang lahir untuk menyempurnakan teori atom Bohr. Teori inilah yang berlaku hingga saat ini, sejak pertama kali dikemukakan pada tahun 1926.
Dalam teorinya ini, Schrodinger menjelaskan bahwa bentuk partikel tidak hanya gelombang, melainkan juga gelombang probabilitas. Dalam artian, pada dasarnya kedudukan elektron yang mengitari inti atom tidaklah pasti.
Jadi, keberadaan elektron tidak dapat ditetapkan secara pasti terletak di bagian lintasan atau kulit yang mana. Inilah mengapa partikel juga memiliki bentuk gelombang probabilitas.
Nah, demikianlah penjelasan tentang pengertian dan perkembangan teori atom dari waktu ke waktu. Bagi kamu para pelajar ataupun mahasiswa, informasi di atas penting dipelajari untuk menambah ilmu pengetahuan yang kamu miliki. Semoga bermanfaat dan jangan lupa bagikan informasi ini ke rekan-rekanmu yang membutuhkan!


Tuliskan Komentar