Mengenal Pengertian Cerita Sage, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Saat masih kecil, kamu mungkin pernah mendengarkan guru atau orang tua bercerita tentang kisah-kisah zaman dahulu. Yang mana, kisah-kisah tersebut menampilkan tokoh-tokoh luar biasa dan menyampaikan pesan moral yang berharga.
Jenis cerita yang biasa diceritakan atau didongengkan oleh orang tua kepada anak dan sifatnya turun temurun ini ada banyak. Mulai dari mitos, legenda, cerita rakyat, hingga cerita sage.
Mengenal Pengertian Cerita Sage, Ciri-Ciri, dan Contohnya
Nah, sudah tahukah kamu apa itu cerita sage dan bagaimana ciri-ciri yang membedakannya dengan jenis cerita lain? Jika belum, artikel kali ini akan secara tuntas membahas pengertian cerita sage, ciri-ciri, dan contohnya. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Apa Itu Cerita Sage?
Istilah sage berasal dari bahasa Jerman “was gesagt wird” yang artinya dikatakan atau diucapkan. Secara umum, cerita sage adalah salah satu jenis cerita rakyat yang isinya mengkombinasikan peristiwa bersejarah dengan imajinasi atau fantasi masyarakat. Dengan kata lain, cerita sage terdiri dari dua unsur, yakni fakta dan imajinasi atau mitos.
Sebagai contoh, cerita sage Jaka Tarub yang berasal dari Jawa Tengah. Cerita sage ini mengisahkan tentang pemuda bernama Jaka Tarub yang mencuri selendang milik bidadari bernama Nawang Wulan saat sedang mandi di telaga bersama keenam bidadari lainnya.
Nah, apakah tokoh-tokoh tersebut memang benar-benar ada di zaman dahulu? Jawabannya, tentu tidak. Tokoh-tokoh tersebut bersifat fiktif atau diciptakan berdasarkan imajinasi masyarakat.
Cerita sage tersebut pada awalnya diceritakan secara lisan dan turun-temurun. Namun lambat laun, cerita sage kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku dengan cerita rakyat jenis lainnya.
Apa Itu Cerita Sage Menurut Ahli?
Setelah memahami pengertian cerita sage secara umum, berikut ini juga dipaparkan pandangan para ahli atau sumber terpercaya tentang pengertian cerita sage:
1. Menurut KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sage berarti cerita rakyat yang ditulis berdasarkan cerita sejarah yang sudah ditambah imajinasi masyarakat.
Artinya, cerita sage tidak murni dibangun dari catatan sejarah atau fakta, melainkan juga dibumbui unsur rekayasa atau imajinasi masyarakat. Lambat laun, cerita sage ini semakin berkembang dari mulut ke mulut dan diwariskan dari generasi ke generasi.
2. Menurut Diana Nababan
Menurut Diana Nababan dalam buku Intisari Bahasa Indonesia (2008), sage merupakan jenis karya sastra lama berupa cerita dongeng yang mengandung unsur sejarah atau masa lalu.
3. Kemendikbud
Dikutip dari situs Balai Bahasa Jawa Tengah, Kemendikbud menerangkan bahwa pengertian cerita sage adalah dongeng yang isinya mengandung unsur sejarah atau historis.
Bagaimana Ciri-Ciri Cerita Sage?
Nah, setelah memahami pengertian cerita sage, lalu bagaimana membedakan cerita sage dengan jenis cerita rakyat lainnya? Untuk itu, kamu bisa simak lebih lanjut ciri-ciri cerita sage berikut ini:
1. Memuat peristiwa bersejarah
Ciri cerita sage yang pertama memuat cerita sejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah. Sebagai contoh, Candi Prambanan yang dikisahkan dalam cerita sage Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Meski ada bukti sejarahnya, tokoh-tokoh ini tidak benar-benar ada atau hasil imajinasi.
2. Mengandung amanat atau pesan moral
Setiap cerita tentu memiliki amanat atau pesan moral. Seperti halnya dalam cerita Roro Jonggrang, pesan moral yang disampaikan kepada pembaca adalah agar tidak menjadi manusia serakah. Dengan adanya pesan moral ini, setiap orang termasuk anak-anak yang mendengarkan bisa belajar dan harapannya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
3. Disebarluaskan secara lisan dan turun-temurun
Meski sekarang penyajiannya sudah banyak dikumpulkan dan dibukukan bersama cerita rakyat lainnya, cerita sage awalnya berkembang dari mulut ke mulut dan diwariskan dari generasi ke generasi.
4. Terdapat unsur keajaiban, ilmu kesaktian, atau kepahlawanan
Ciri berikutnya, cerita sage juga pada umumnya mengandung unsur keajaiban, ilmu kesaktian, atau kepahlawanan. Misalnya saja dalam cerita Candi Prambanan atau Roro Jonggrang. Yang mana, Bandung Bondowoso meminta bala bantuan dari makhluk halus untuk membangun 1000 candi dalam satu malam, serta ilmu sakti untuk mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu karena tipu dayanya.
5. Bersifat anonim
Cerita-cerita sage juga bersifat anonim. Yang artinya, cerita sage dikarang atau ditulis oleh sosok tidak dikenal. Cerita sage berkembang sangat cepat dari mulut ke mulut tanpa diketahui pasti siapa pengarangnya.
6. Bersifat kolektif
Selain bersifat anonim, cerita sage juga bersifat kolektif. Bersifat kolektif artinya cerita sage tidak dimiliki oleh satu orang atau satu pihak saja, melainkan seluruh masyarakat yang mendengarkan maupun menceritakannya karena memang cerita sage ini tidak diketahui siapa penciptanya.
7. Memiliki tema sama dengan cerita sage lainnya
Walaupun judul dan asal daerahnya berbeda-beda, cerita sage kerap kali mengangkat tema sama, misalnya tentang percintaan di sebuah kerajaan.
8. Mayoritas berlatar kerajaan atau istana
Terakhir, ciri cerita sage lainnya yaitu menggunakan latar cerita di istana atau kerajaan. Hal ini berkaitan dengan latar waktu di zaman dahulu dan unsur kesaktian atau keajaiban di dalam cerita sage.
Apa Saja Contoh Cerita Sage yang Terkenal di Indonesia?

Berikut ini sepuluh contoh cerita sage yang populer dan berkembang di Indonesia hingga saat ini:
1. Sangkuriang (Legenda Tangkuban Perahu)
Menceritakan kisah cinta terlarang antara seorang ibu dan anaknya tanpa disadari. Lama kelamaan sang ibu (Dayang Sumbi) menyadari hal tersebut, dan meminta anaknya (Sangkuriang) untuk membangun perahu agar rencana dirinya menikahi Dayang Sumbi gagal. Itulah kenapa cerita ini diyakini sebagai asal-usul munculnya gunung tangkuban perahu.
2. Si Pitung
Si Pitung menceritakan tentang seorang jagoan Betawi yang membela kebenaran dan keadilan bagi rakyat kecil. Kisah Si Pitung ini menjadi simbol keberanian melawan penindasan dan ketidakadilan.
3. Lutung Kasarung
Lutung kasarung merupakan cerita sage yang mengangkat tema percintaan antara seorang putri berhati mulia dengan pangeran yang dikutuk menjadi lutung. Cerita sage ini mengandung pesan moral kesabaran dan ketulusan.
4. Jaka Tingkir
Menceritakan tentang perjalanan seorang rakyat biasa bernama Jaka Tingkir hingga bisa menjadi Sultan Pajang. Cerita Jaka Tingkir memperlihatkan pesan moral keberanian, kegigihan, keteguhan hati, dan kecerdikan.
5. Jaka Tarub
Cerita sage ini menceritakan sosok pemuda bernama Jaka Tarub yang mencuri selendang milik salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga, bernama Nawang Wulan. Karena hal ini, Nawang Wulan tidak bisa pulang ke kahyangan bersama keenam saudarinya.
Singkat cerita, Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan. Kemudian lama kelamaan, Nawang Wulan mengetahui bahwa Jaka Tarub lah yang mencuri selendangnya. Nawang Wulan pun memilih meninggalkan Jaka Tarub dan pulang ke kahyangan.
6. Ciung Wanara
Bercerita tentang takhta kerajaan galuh yang diperebutkan dan penuh dengan konflik keluarga. Pada akhirnya, kebenaran dan keberanianlah yang menang dalam cerita ini.
7. Hikayat Hang Tuah
Bercerita tentang seorang Laksamana Kesultanan Malaka bernama Hang Tuah, yang senantiasa menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan. Cerita ini menyimpan nilai-nilai mulia dalam sejarah Melayu, yakni kepahlawanan dan loyalitas.
8. Ramayana
Cerita sage Ramayana menceritakan tentang perjuangan Rama untuk menyelamatkan Sinta dari Rahwana. Pesan moral dalam cerita ini adalah kasih sayang, kesetiaan, kebenaran, pengorbanan, dan perjuangan.
9. Roro Jonggrang
Cerita Roro Jonggrang berkaitan dengan asal-usul Candi Prambanan. Yang mana, kisah ini menceritakan tentang seorang putri bernama Roro Jonggrang yang menggagalkan pembangunan candi oleh pemuda bernama Bandung Bondowoso. Akibatnya, Roro Jonggrang dikutuk menjadi arca batu.
10. Malin Kundang
Menceritakan sosok pemuda bernama Malin Kundang yang berlaku kasar atau durhaka terhadap ibunya setelah ia menjadi orang sukses. Malin Kundang kemudian dikutuk menjadi batu oleh sang ibu. Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya bakti anak kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan dengan penuh kasih sayang serta pengorbanan.
Nah, itulah tadi 10 contoh cerita sage yang populer di Indonesia. Selain 10 cerita sage di atas, masih ada banyak cerita sage lainnya seperti cerita Syariah Melayu, Rawa Pening, Klenting Kuning, Nyi Roro Kidul, Roro Mendut, Airlangga, Kebo Iwak, Calon Arang, Ken Arok, hingga cerita Caadara.
Apa Bedanya Cerita Sage dengan Dongeng?
Supaya tidak bingung membedakan jenis cerita apa yang kamu dengar atau baca, apakah cerita sage ataukah dongeng, berikut perbedaan keduanya yang perlu kamu pahami:
| Aspek | Cerita sage | Dongeng |
|---|---|---|
| Unsur fiktif | Meskipun mengandung unsur fiktif, cerita sage tetap lebih realistis | Terdapat unsur fantasi seperti peri dan hewan yang bisa berbicara (dongeng fabel) |
| Tujuan | Mengedukasi pembaca melalui pesan moral yang terkandung di dalam cerita | Menghibur dan membangun imajinasi pembaca, serta menyelipkan hikmah secara halus |
| Isi cerita | Memadukan cerita sejarah dan imajinasi masyarakat | Hanya berdasarkan imajinasi |
| Tokoh | Manusia | Bisa peri, raksasa, hewan, atau benda yang mampu berbicara |
| Alur cerita | Lebih panjang dan kompleks | Pendek, padat, dan langsung menuju inti masalah |
| Bahasa | Puitis dan imajinatif | Sederhana dan santai |
| Akhir cerita | Umumnya, kebaikan akan menang dan kejahatan kalah | Tidak selalu berakhir bahagia |
| Target pembaca | Masyarakat dari berbagai kalangan usia | Anak-anak |
| Contoh | Dongeng Si Kancil, Timun Mas, dan Bawang Merah Bawang Putih. | Cerita Roro Jonggrang, Malin Kundang, Sangkuriang, dan lain sebagainya. |
FAQ Seputar Cerita Sage
Berikut daftar pertanyaan yang sering diajukan seputar cerita sage:
1. Apakah cerita sage merupakan kisah nyata?
Tidak, cerita sage dibumbui kisah fiktif atau imajinasi masyarakat.
2. Apa bedanya cerita sage dengan dongeng?
Cerita sage dan dongeng memiliki perbedaan signifikan dari segi tujuan, isi cerita, tokoh, alur, bahasa, akhir cerita, hingga target pembacanya.
3. Siapa yang mengarang cerita sage?
Cerita sage bersifat anonim atau tidak diketahui siapa pengarangnya.
4. Dari mana cerita sage berasal?
Cerita sage berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.
5. Bagaimana cara memberikan pelajaran kepada anak melalui cerita sage?
Anak bisa diberikan pelajaran dari cerita sage dengan cara menceritakan sebuah cerita sage setiap kali hendak tidur. Lalu, anak bisa diminta menjelaskan pelajaran yang ia dapatkan dari cerita tersebut atau menceritakan ulang keesokan harinya.
Demikian pembahasan kali ini, mulai dari pengertian cerita sage, ciri-ciri, perbedaan dengan dongen, hingga contohnya. Indonesia sendiri kaya akan cerita-cerita sage yang sampai saat ini masih terus berkembang dan diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Bahkan sekarang, cerita sage tidak hanya disebarluaskan secara lisan saja. Melainkan juga sudah tersaji dengan beragam cerita sage atau cerita rakyat lainnya dalam bentuk buku.
Membaca cerita sage merupakan cara sederhana namun asik untuk memperoleh hiburan sekaligus pelajaran tentang sejarah dan pesan moral yang berharga. Nah, dari sekian banyaknya contoh cerita sage, apa saja nih judul cerita sage yang sudah pernah kamu dengar atau baca?


Tuliskan Komentar