Blog

Merasa Tulisanmu Jelek? Ini 8 Cara Mengatasi Sindrom Imposter bagi Penulis

Pernahkah kamu mendapatkan prestasi atau pencapaian dalam menulis tetapi tidak ada rasa bangga terhadap diri sendiri? Yang muncul justru perasaan tidak pantas menerima pencapaian tersebut? Jika iya, bisa jadi kamu mengalami yang namanya sindrom imposter.

Penulis yang mengalami sindrom imposter akan merasa pencapaian tersebut tidak didapatkan karena kemampuannya, melainkan hanya faktor kebetulan atau keberuntungan semata. Alhasil, penulis tidak pernah merasa puas dengan pencapaian yang diraih.

Merasa Tulisanmu Jelek? Ini 8 Cara Mengatasi Sindrom Imposter bagi Penulis

Itulah kenapa penulis pemula maupun profesional perlu tahu bagaimana cara mengatasi sindrom imposter agar tidak terjebak terlalu lama sehingga berdampak pada produktivitas menulis dan kualitas tulisan yang dihasilkan. Yuk, ikuti cara-caranya dalam artikel ini!

Apa Itu Sindrom Imposter?

Sindrom imposter atau sindrom penipu adalah sebuah fenomena psikologis yang menyebabkan seseorang tidak merasa bangga, tidak pantas, dan puas atas pencapaian atau keberhasilan yang diraih. Seseorang yang mengalami sindrom imposter justru meragukan diri sendiri dan merasa kurang kompeten sehingga tidak pantas menerima pencapaian tersebut.

Ia menganggap keberhasilan tersebut diperoleh karena beruntung atau kebetulan semata, bukan karena kerja keras dan kompetensi yang dimiliki. Jika dibiarkan terus menerus, hal ini bisa memicu stres dan depresi.

Meski sudah memperoleh banyak pencapaian, penulis cenderung merasa tidak pernah puas dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Itulah kenapa penting bagi para penulis untuk mengetahui cara mengatasi sindrom imposter ini agar tetap produktif berkarya.

Kenapa Penulis Bisa Mengalami Sindrom Imposter?

Sindrom imposter bukanlah fenomena psikologis yang bisa dialami begitu saja. Beberapa hal berikut bisa menjadi penyebab atau alasan kenapa penulis mengalami sindrom imposter:

1. Perfeksionisme berlebihan

Setiap karya tentu tidak ada yang sempurna. Bahkan, karya yang ditulis oleh penulis profesional sekalipun pasti selalu ada kekurangannya di mata pembaca.

Namun, penulis dengan imposter syndrome biasanya memiliki perfeksionisme yang cenderung berlebihan. Ia selalu menuntut karyanya harus sudah terlihat sempurna atau tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun sebelum dipublikasikan.

Perfeksionis memang baik untuk mengoptimalkan hasil pekerjaan. Namun jika berlebihan, hal ini justru bisa menjadi tekanan psikologis tersendiri sehingga penulis akan lebih rentan mengalami stres dan imposter syndrome.

2. Fear of Missing Out (FOMO)

Merasa mengalami ketertinggalan kadang dialami oleh penulis, terlebih lagi ketika sering melihat pencapaian penulis lain yang berseliweran di sosial media. Jika tidak terkontrol, hal ini bisa menyebabkan penulis merasa minder, tidak percaya diri, dan akhirnya memicu sindrom imposter.

3. Memiliki pola pikir yang keliru

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa menulis itu bakat. Padahal, menulis adalah kemampuan yang bisa diasah, bukan lahir begitu saja secara alami. Pola pikir bahwa menulis itu bakat dapat membuat rasa percaya diri menciut dan memunculkan sindrom imposter.

4. Menulis genre karya baru

Berikutnya, penulis bisa mengalami sindrom imposter karena menjalani peran baru. Beberapa penulis bisa mengalami keraguan pada kemampuan diri sendiri karena menulis genre karya yang sebelumnya belum pernah ia tulis. Misalnya saja, yang tadinya menulis karya fiksi seperti cerpen atau novel, lalu beralih menulis buku self improvement.

5. Terlalu ambisius

Terlalu ambisius juga bisa menjadi penyebab munculnya sindrom imposter dalam diri penulis. Ambisius memang boleh untuk membantu penulis termotivasi dalam meraih prestasi di dunia kepenulisan.

Namun, ambisi yang kelewat tinggi sering kali memicu target yang ketat sehingga bisa menjadi beban pikiran bagi penulis. Hal ini membuat penulis cenderung tidak bisa menikmati proses dan mengalami sindrom imposter.

6. Hanya fokus pada hasil

Segala pencapaian yang diperoleh tentu tidak lepas dari proses yang sudah dilewati. Ingin mendapatkan hasil karya sebaik mungkin tentu adalah harapan setiap penulis. Namun, hanya berfokus pada hasil tanpa melihat proses bisa membuat penulis cenderung mau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan prestasi agar dibanggakan dan diakui.

Selain itu, fokus pada hasil saja juga bisa membuat penulis mudah merasa kecewa ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, rentan stres atau tertekan, dan terjebak sindrom imposter.

Bagaimana Cara Mengatasi Sindrom Imposter bagi Penulis?

Merasa Tulisanmu Jelek? Ini 8 Cara Mengatasi Sindrom Imposter bagi Penulis

Nah, setelah mengetahui apa saja penyebab sindrom imposter bagi penulis, maka berikutnya kamu perlu mengetahui cara mengatasi sindrom imposter tersebut agar produktivitas menulis dan kualitas tulisanmu tetap terjaga. Bagi kamu penulis pemula maupun profesional, yuk simak cara-caranya berikut ini!

1. Mengubah pola pikir

Cara mengatasi sindrom imposter bagi penulis yang pertama adalah mengubah pola pikir. Jika awalnya kamu berpikir bahwa menulis itu bakat atau hasil tulisan harus sempurna sesuai keinginan, maka yuk mulai sekarang sadari bahwa menulis itu kemampuan yang bisa dilatih. Selain itu, tidak ada karya yang sempurna di dunia ini.

Apalagi jika masih berupa draft pertama. Seperti kutipan Ernest Hemingway yang mengatakan bahwa “Draft pertama dari apapun itu buruk”.

Dalam artian, draft pertama tidak akan langsung bisa menjadi mahakarya, melainkan ide mentah yang masih perlu diolah. Dengan demikian, perfeksionisme perlu dihindari agar proses menulis bisa menjadi terasa lebih ringan.

2. Kurangi bermain sosial media

Membatasi bermain sosial media juga menjadi salah satu cara mengatasi sindrom imposter yang ampuh bagi penulis. Langkah ini membantu penulis agar tidak terus menerus membandingkan pencapaian dirinya dengan penulis lain.

3. Konsisten latihan menulis

Seperti yang sudah dikatakan di awal bahwa menulis adalah keterampilan yang bisa diasah, bukan lahir secara alami. Untuk itu, kamu perlu berlatih menulis secara konsisten agar kemampuan menulis meningkat. Dengan begitu, kepercayaan diri kamu juga akan bertambah, tidak mudah merasa insecure dengan pencapaian penulis lain, dan terhindar dari sindrom imposter.

4. Jangan lupa berikan penghargaan pada diri sendiri

Terkadang, penulis lebih mudah memberikan penghargaan atau ucapan selamat atas pencapaian penulis lain, sementara terasa sulit kepada diri sendiri. Padahal, pencapaian sekecil apapun adalah bukti bahwa kita sudah bekerja keras dan selangkah lebih baik.

Sebagai contoh, cerpen atau puisi yang kamu kirimkan ke media ternyata berhasil dimuat. Meskipun berupa karya pendek, kamu tetap patut memberikan penghargaan atau apresiasi terhadap diri sendiri karena tidak semua penulis bisa mencapainya.

5. Berhenti membandingkan diri dengan penulis lain

Membandingkan dengan penulis lain bisa menjadi pemicu munculnya rasa tidak percaya penulis terhadap kemampuan dan pencapaian diri sendiri. Padahal, setiap penulis memiliki timeline masing-masing dalam meraih keberhasilan. Ada yang prosesnya terkesan cepat, ada pula yang lambat. Semua hanya soal waktu.

6. Mengontrol pikiran negatif

Cara mengatasi sindrom imposter bagi penulis selanjutnya adalah mengontrol pikiran negatif. Setiap kali ia datang, segera alihkan ke pikiran atau hal yang positif. Sadari bahwa pikiran negatif tersebut hanyalah asumsi yang bisa menghambat kemajuan diri sendiri.

7. Tidak memendam perasaan

Penulis yang memiliki imposter syndrome biasanya cenderung banyak berpikiran negatif dan menyimpan segala perasaannya sendirian.

Misalnya saja saat hendak mempublikasikan tulisannya, ia akan merasa takut dan berpikir tulisannya tidak akan disukai pembaca, atau pikiran negatif lainnya. Padahal, ketakutan itu hanya ada di pikiran penulis.

Maka, kamu membutuhkan tempat bercerita untuk menumpahkan segala perasaan yang dirasakan. Bercerita dengan orang terdekat atau terpercaya bisa memberikan kamu motivasi dan masukan positif agar lebih percaya diri dalam menulis.

8. Belajar menerima kegagalan

Cara mengatasi sindrom imposter bagi penulis yang terakhir adalah belajar menerima kegagalan. Satu atau beberapa kali kegagalan bukanlah pertanda bahwa kamu harus berhenti memperjuangkan impianmu.

Kegagalan justru sering kali menyelipkan pelajaran berharga yang membantumu berkarya dengan jauh lebih baik di masa mendatang. Maka, jika kamu harus menerima kegagalan, bangkit dan coba lagi sampai momen berhasil itu tiba. Jika lelah, beristirahatlah sejenak agar energimu terkumpul untuk mencoba kembali.

Itulah tadi delapan cara mengatasi sindrom imposter bagi penulis. Dengan mengubah pola pikir, konsisten menulis, membatasi bermain sosial media, hingga belajar menerima kegagalan, kamu bisa menjadi sosok penulis yang lebih mudah menghargai pencapaian diri sendiri walau sekecil apapun itu.

FAQ Seputar Cara Mengatasi Sindrom Imposter bagi Penulis

Inilah ragam pertanyaan yang sering diajukan penulis seputar cara mengatasi sindrom imposter dilengkapi dengan jawabannya:

1. Apa itu sindrom imposter?

Sindrom imposter atau sindrom penipu adalah kondisi psikologis di mana menyebabkan seseorang merasa tidak puas atau tidak pantas terhadap pencapaian yang diperolehnya.

2. Apakah wajar jika penulis merasa tulisannya buruk?

Ya, wajar. Setiap penulis tentu memiliki selera atau standarnya masing-masing sehingga wajar jika merasa tidak puas terhadap karyanya sendiri. Itulah kenapa penulis perlu terus berlatih agar kualitas tulisannya meningkat.

3. Bagaimana cara membedakan kritik yang membangun dan imposter syndrome?

Kritik yang membangun mengarah kepada aspek penulisan, sedangkan imposter syndrome mengarah pada aspek personal atau kepribadian penulis.

4. Apakah sindrom imposter bisa dihilangkan?

Ya, bisa meskipun tidak sepenuhnya. Yang perlu kamu lakukan adalah mengendalikan dan mengabaikan ketika sindrom imposter itu datang dan tetap lanjut menulis.

Bagikan:
‹ Mengenal Perbedaan Sajak dan Puisi yang Jarang Diketahui